Assallamuallaikum sobat blogger
Berhubung di sekolah ane pelajaran
biologinya sedang membahas bab Sistem
Reproduksi, jadi kali ini ane akan membahas sedikit tentang hal
tersebut, pertama-tama ncang-ncing bisa tonton dulu vidio ini ..Vidio ini ane
dapet dari YouTube tapi
awalnya ane nonton ini di kelas di setel ama guru ane pake infokus ..Yaudah
ente tonton dulu dahh ..Cekidoott !!!
Proses Reproduksi pada manusia melputi:
A. Spermatogenesis
Proses pembentukan
dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis (seenggaknya begitu kata guru
ane hhehe). Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa
atau spermatogonium, sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga
sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus yang berfungsi
menghasilkan testosteron. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja
beberapa hormon.
Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon
perangsang folikel (Folicle Stimulating Hormone/FSH) dan hormon lutein
(Luteinizing Hormone/LH). LH merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon
testosteron. Pada masa pubertas, androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat
kelamin sekunder. FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen
Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses
spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut
spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan
waktu selama 2 hari.Proses Spermatogenesis : Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit sekunder, spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid, spermatid berdiferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 – 400 juta sel spermatozoa.
B. Oogenesis
Di dalam ovarium
janin sudah terkandung sel pemula atau oogonium. Oogonium akan berkembang
menjadi oosit primer. Saat bayi dilahirkan oosit primer dalam fase profase pada
pembelahan meiosis. Oosit primer kemudian mengalami masa istirahat hingga masa
pubertas.
Pada masa pubertas terjadilah oogenesis.
Oosit primer membelah secara meiosis, menghasilkan 2 sel yang berbeda ukurannya.
Sel yang lebih kecil, yaitu badan polar pertama membelah lebih lambat,
membentuk 2 badan polar. Sel yang lebih besar yaitu oosit sekunder, melakukan
pembelahan meiosis kedua yang menghasilkan ovum tunggal dan badan polar kedua.
Ovum berukuran lebih besar dari badan polar kedua.Pengaruh Hormon dalam Oogenesis. Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon FSH yang merangsang pertumbuhan sel-sel folikel di sekeliling ovum. Ovum yang matang diselubungi oleh sel-sel folikel yang disebut Folikel Graaf, Folikel Graaf menghasilkan hormon estrogen. Hormon estrogen merangsang kelenjar hipofisis untuk mensekresikan hormon LH, hormon LH merangsang terjadinya ovulasi. Selanjutnya folikel yang sudah kosong dirangsang oleh LH untuk menjadi badan kuning atau korpus luteum. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progresteron yang berfungsi menghambat sekresi DSH dan LH. Kemudian korpus luteum mengecil dan hilang, sehingga aklurnya tidak membentuk progesteron lagi, akibatnya FSH mulai terbentuk kembali, proses oogenesis mulai kembali.
Catatan : Pada laki-laki spermatogenesis terjadi seumur hidup, dan pelepasan spermatozoa dapat terjadi setiap saat. Pada wanita, ovulasi hanya berlangsung sampai umur sekitar 45 – 5O tahun. Seorang wanita hanya mampu menghasilkan paling banyak 400 ovum selama hidupnya, meskipun ovarium seorang bayi perempuan sejak lahir sudah berisi 500 ribu sampai 1 juta oosit primer.
C. Siklus Menstruasi
Setiap bulan wanita
melepaskan satu sel telur dari salah satu ovariumnya. Bila sel telur ini tidak
mengalami pembuahan maka akan terjadi perdarahan (menstraasi). Menstruasi
terjadi secara perfodik satu bulan sekali. Saat wanita tidak mampu lagi
melepaskan ovum karena sudah habis tereduksi, menstruasi pun menjadi tidak
teratur lagi, sampai kemudian terhenti sama sekali. Masa ini disebut menopause.
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan
primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus
menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus
akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi
pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus. Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.
D. Pembentukan Embrio
Peristiwa fertilisasi
terjadi di saat spermatozoa membuahi ovum di tuba fallopii, terjadilah zigot,
zigot membelah secara mitosis menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan
seterusnya. Pada saat 32 sel disebut morula, di dalam morula terdapat rongga
yang disebut blastosoel yang berisi cairan yang dikeluokan oleh tuba fallopii,
bentuk ini kemudian disebut blastosit. Lapisan terluar blastosit disebut
trofoblas merupakan dinding blastosit yang berfungsi untuk menyerap makanan dan
merupakan calon tembuni atau ari-ari (plasenta), sedangkan masa di dalamnya
disebut simpul embrio (embrionik knot) merupakan calon janin. Blastosit ini
bergerak menuju uterus untuk mengadakan implantasi (perlekatan dengan dinding
uterus).
Pada hari ke-4 atau ke-5 sesudah ovulasi,
blastosit sampai di rongga uterus, hormon progesteron merangsang pertumbuhan
uterus, dindingnya tebal, lunak, banyak mengandung pembuluh darah, serta
mengeluarkan sekret seperti air susu (uterin milk) sebagai makanan embrio.Enam hari setelah fertilisasi, trofoblas menempel pada dinding uterus (melakukan implantasi) dan melepaskan hormon korionik gonadotropin. Hormon ini melindungi kehamilan dengan cara menstrimulasi produksi hormon estrogen dan progesteron sehingga mencegah terjadinya menstruasi. Trofoblas kemudian menebal beberapa lapis, permukaannya berjonjot dengan tujuan memperluas daerah penyerapan makanan. Embrio telah kuat menempel setelah hari ke-12 dari fertilisasi.1.
Pembuatan Lapisan Lembaga. Setelah hari ke-12, tampak dua lapisan jaringan di sebelah luar disebut ektoderm, di sebelah dalam endoderm. Endoderm tumbuh ke dalam blastosoel membentuk bulatan penuh. Dengan demikian terbentuklah usus primitif dan kemudian terbentuk Pula kantung kuning telur (Yolk Sac) yang membungkus kuning telur. Pada manusia, kantung ini tidak berguna, maka tidak berkembang, tetapi kantung ini sangat berguna pada hewan ovipar (bertelur), karena kantung ini berisi persediaan makanan bagi embrio.
Di antara lapisan ektoderm dan endoderm terbentuk lapisan mesoderm. Ketiga lapisan tersebut merupakan lapisan lembaga (Germ Layer). Semua bagian tubuh manusia akan dibentuk oleh ketiga lapisan tersebut. Ektoderm akan membentuk epidermis kulit dan sistem saraf, endoderm membentuk saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan, mesoderm membentuk antara lain rangka, otot, sistem peredaran darah, sistem ekskresi dan sistem reproduksi.
Membran (Lapisan Embrio). Terdapat 4 macam membran embrio, yaitu :
Ø Kantung Kuning Telur (Yolk Sac)
Kantung kuning
telur merupakan pelebaran endodermis berisi persediaan makanan bagi hewan
ovipar, pada manusia hanya terdapat sedikit dan tidak berguna.
Ø Amnion
Amnion merupakan
kantung yang berisi cairan tempat embrio mengapung, gunanya melindungi janin
dari tekanan atau benturan.
Ø Alantois
Pada alantois
berfungsi sebagai organ respirasi dan pembuangan sisa metabolisme. Pada
mammalia dan manusia, alantois merupakan kantung kecil dan masuk ke dalam
jaringan tangkai badan, yaitu bagian yang akan berkembang menjadi tall pusat.
Ø Korion
Korion adalah
dinding berjonjot yang terdiri dari mesoderm dan trofoblas. Jonjot korion
menghilang pada hari ke-28, kecuali pada bagian tangkai badan, pada tangkai
badan jonjot trofoblas masuk ke dalam daerah dinding uterus membentuk ari-ari
(plasenta). Setelah semua membran dan plasenta terbentuk maka embrio disebut
janin/fetus.
Plasenta atau
Ari-Ari. Plasenta atau ari-ari berbentuk seperti cakram dengn garis tengah 20
cm, dan tebal 2,5 cm. Ukuran ini dicapai pada waktu bayi akan lahir tetapi pada
waktu hari 28 setelah fertilisasi, plasenta berukuran kurang dari 1 mm.
Plasenta berperan dalam pertukaran gas, makanan dan zat sisa antara ibu dan
fetus. Pada sistem hubungan plasenta, darah ibu tidak pernah berhubungan dengan
darah janin, meskipun begitu virus dan bakteri dapat melalui penghalang
(barier) berupa jaringan ikat dan masuk ke dalam darah janin.
Catatan : Makin tua kandungan, jumlah
estrogen di dalam darah makin banyak, progesteron makin sedikit. Hal ini
berhubungan dengan sifat estrogen yang merangsang uterus untuk berkontraksi,
sedangkan progesteron mencegah kontraksi uterus. Hormon oksitosin yang
dihasilkan oleh kelenjar hipofisis jugs berperan dalam merangsang kontraksi
uterus menjelang persalinan. Progesteron dan estrogen juga merangsang
pertumbuhan kelenjar air susu, tetapi setelah kelahiran hormon prolaktin yang
dihasilkan kelenjar hipoftsislah yang merangsang produksi air susu.E. Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah
suatu cara yang bertujuan mencegah terjadinya pembuahan, terdapat beberapa
metode, antara lain:
Ø Tanpa Alat Bantu
Dengan cara tidak
melakukan koitus pada masa subur wanita (hari 12 – 16 siklus haid). Cara ini
dikenal dengan nama sistem kalender atau abstinensi.
Ø Menggunakan Alat Bantu
Mencegah pertemuan
ovum dengan spermatozoa, dapat dilakukan dengan berbagai alat bantu, misalnya :
kondom, spiral, jelly, dan lain-lain.
Ø Sterilisasi
Sterilisasi
dilakukan dengan mengikat/memotong saluran vas defereus dikenal dengan istilah
vasektomi, atau mengikat/memotong tuba fallopii dikenal dengan istilah
tubektomi.
Oiya sebelum saya sudahi postingan saya pada kali ini .Mungkin ada sebuah gambar proses pertumbuhan manusia pada massa di dalam kandungan ibu, sejak usia 28 hari sampai dnegan hari ke 56
Terimakasih
untuk sobat blogger yang telah membaca postingan saya tentang proses reproduksi
manusia ini, semoga bissa bermanfaat bagi semua nya ..
Wassallamuallakum
Wr.Wb
